Benarkah Daun Katuk Bisa Bantu Tingkatkan Produksi ASI?

Benarkah Daun Katuk Bisa Bantu Tingkatkan Produksi ASI?

Kesehatan 561

Daun katuk merupakan salah satu tanaman yang kaya akan vitamin A dan vitamin C. selain itu, ia juga mengandung vitamin E dan beta karoten. Jika dibandingkan, komposisinya lebih banyak vitamin larut air daripada vitamin larut lemak. Terkait protein dan karbohidrat, kandungannya dalam berat yang sama lebih tinggi dibandingkan sayuran lainnya.

Selain itu, daun katuk juga mengandung kalsium, zat besi dan, seng yang cukup tinggi dan konsentrasinya akan meningkat seiring kematangan daun. Uniknya, penelitian menunjukkan bahwa bagian daun yang tumbuh dekat pangkal batang mengandung zat gizi yang lebih banyak dibandingkan daun yang tumbuh di ujung batang. 

Proses memasak daun katuk ternyata berperan penting terhadap kandungan gizinya. Ketika dimasak dengan suhu tinggi, protein didalamnya akan terdegradasi, beta karoten didalamnya cenderung berkurang setelah metode memasak microwave dan direbus dibandingkan daun mentah. Sebaliknya, kandungan vitamin C, zat besi, seng, dan magnesium meningkatkan ketika dimasak dengan metode stir-frying. 

Senyawa Bioaktif

Senyawa bioaktif tanaman (fitokimia) yang terkandung di dalam daun katuk yaitu flavonoid, steroid, asam lemak, alkaloid, dan vitamin E.Senyawa bioaktif dalam tumbuhan memiliki peranan penting bagi kesehatan manusia karena memiliki berbagai aktivitas seperti antiinflamasi, antioksidan, antimikroba, hingga antidiabetes. 

Katuk kaya akan fitokimia yang memiliki peranan penting bagi kesehatan

Manfaat

  • Antioksidan: daun katuk diketahui dapat menetralkan radikal bebas, sehingga bermanfaat untuk mencegah kerusakan sel

  • Antikanker: daun katuk diketahui memiliki peran untuk menghambat pertumbuhan sel-sel kanker melalui aktivitas sitotoksiknya

  • Antidiabetes: daun katuk diketahui mampu membantu penurunan kadar gula darah pada hewan coba dengan penyakit diabetes 

  • Antimikroba: daun katuk menunjukkan sifat antibakteri dan antijamur serta efektif untuk melawan bakteri yang resisten terhadap antibiotik

  • Antiinflamasi: daun katuk diketahui dapat mengatur pengiriman sinyal yang terkait dengan peradangan di dalam tubuh, sehingga bermanfaat untuk mengurangi peradangan berlebihan dan mencegah terjadinya penyakit yang disebabkan oleh inflamasi kronis

  • Meningkatkan laktasi: daun katuk diketahui dapat meningkatkan produksi ASI pada manusia dan hewan, di mana hal ini diperkirakan berkaitan dengan induksi hormon prolaktin

  • Mengurangi batuk: daun katuk diketahui dapat mengurangi gejala batuk

  • Antirontok: daun katuk diketahui dapat mendorong pertumbuhan rambut dan mengatasi masalah kerontokan

  • Analgesik: daun katuk diketahui dapat mengurangi rasa sakit dengan efek samping yang lebih sedikit

  • Anti-anemia: daun katuk diketahui dapat meningkatkan jumlah sel darah merah dan hemoglobin, sehingga dapat dikatakan ia bersifat sebagai anti-anemia

Konsumsi daun katuk dapat bantu tingkatkan produksi ASI

Konsumsi Sewajarnya

Daun katuk mengandung papaverin yang dapat menyebabkan gangguan pernapasan seperti bronkiolitis obliterans. Konsumsi berlebihan turut menyebabkan masalah seperti sulit tidur, penurunan berat badan, dan sulit bernapas. Studi pada hewan coba juga menunjukkan bahwa katuk dapat memiliki efek teratogenik, yang berarti dapat menyebabkan cacat pada janin. Oleh karena itu, perlu berhati-hati dalam mengonsumsinya dengan cara memperhatikan dosis yang aman.

Daun katuk tampaknya memiliki keunggulan dibandingkan tanaman lainnya. Ia mengandung vitamin A, vitamin C, vitamin E, zat besi, kalsium, hingga senyawa bioaktif tumbuhan yang berlimpah. Hal ini membuatnya mampu menawarkan  beberapa manfaat kesehatan, seperti antioksidan, antimikroba, antiinflamasi, antikanker, hingga meningkatkan produksi ASI.  Menarik bukan?