Bahaya Jengkol: si Bau Yang Enak

Bahaya Jengkol: si Bau Yang Enak

Kesehatan 670

Secara garis besar, jengkol mengandung kadar air yang cukup tinggi. Selain itu, ia juga memiliki sejumlah protein, pati, dan gula. Yang tak kalah dari makanan lain, sebuah studi yang meneliti terkait jengkol menunjukkan bahwa ia mengandung beberapa mineral penting, seperti natrium, kalium, kalsium, magnesium, dan fosfor. 

Jengkol juga mengandung berbagai senyawa fitokimia yang bermanfaat untuk kesehatan, mulai dari asam fenolik (asam p-kumarat, asam galat, asam vanilat, asam kafeat, dan asam ferulat), flavonoid, beta karoten, vitamin C, serta antosianin, yang menyebabkan jengkol memiliki aktivitas antioksidan yang baik. 

Sifat antioksidan yang dimilikinya ini membuat buah eksotis ini penting untuk menghambat penyakit yang disebabkan oleh senyawa radikal bebas. Namun, kandungan-kandungan yang telah disebutkan ini akan berbeda tergantung dari kematangan buah, kondisi lingkungan, kesuburan tanah, pupuk, hingga teknik pemrosesannya. 

Risiko Mengandung Bakteri dan Racun

Berdasarkan studi, jengkol berisiko mengandung bakteri hidup, seperti Enterobacteriaceae, Faecal streptococci, Listeria spp., Salmonella spp., dan Pseudomonas aeruginosa. Selain itu, ia juga berisiko mengandung mikotoksin seperti Ochratoxin A dan Patulin. Adanya mikroorganisme ini kemungkinan disebabkan oleh tingginya kadar air dalam buah dan penanganan yang kurang baik setelah panen.

Jengkol berisiko mengandung bakteri berbahaya dan racun

Djengkolism

Djenkolism merupakan suatu kondisi yang dapat menyebabkan cedera ginjal akut akibat konsumsi jengkol, lebih sering ditemukan pada pria. Kasusnya pernah ditemukan di wilayah tropis Asia, namun jarang terjadi. Berdasarkan studi Literature Review di tahun 2014, tingkat kematian akibat djenkolism adalah sebesar 4% (4 dari 96 kasus). Djenkolism ditandai dengan beberapa gejala klinis yang biasanya muncul 2 hingga 12 jam setelah konsumsi, yaitu:

  • Nyeri perut

  • Kembung

  • Muntah 

  • Diare 

  • Disuria (ketidaknyamanan saat buang air kecil)

  • Oliguria (produksi urin sangat rendah, biasanya jika menghasilkan kurang dari 400 mL urin per hari)

  • Hematuria (terdapat darah dalam urin)

  • Hipertensi

Djenkolism terjadi karena konsumsi jengkol berlebihan

Kasus djenkolism pernah ditemukan terjadi di Kalimantan, Indonesia. Seorang pria berusia 32 tahun mengalami nyeri pinggang parah selama 10 jam setelah mengonsumsi 10 biji buah jengkol. Gejala-gejala yang ia alami kurang lebih mirip seperti gejala klinis yang disebutkan di atas. Pria tersebut tidak mengalami penyakit lain dan tidak pula mengonsumsi obat tertentu sebelum atau setelah timbul gejala.

Setelah melakukan pemeriksaan ultrasonografi ginjal, ditemukan bahwa kedua ginjal mengalami pembengkakan tetapi tidak ada batu. Berdasarkan riwayat medis, pria ini pernah mengalami episode serupa ketika remaja. Namun pada saat ini, ia tidak memeriksakannya ke fasilitas pelayanan kesehatan dan sembuh dalam 14 hari. 

Akhirnya selama perawatan, pasien ini perlu mendapatkan cairan melalui infus untuk mengatasi oliguria dan hematuria serta obat-obatan untuk mengurangi nyeri dan gejala yang menyertainya. Setelahnya proses pengobatan di klinik, gejala semakin membaik, tetapi ia tidak disarankan untuk mengonsumsi jengkol lagi.

Jengkol merupakan kegemaran bagi sebagian orang, baik itu digoreng, disemur, dibalado, atau lainnya. Secara umum, jengkol memiliki aktivitas antioksidan yang baik karena mengandung asam fenolik, flavonoid, beta karoten, vitamin C, serta antosianin. Konsumsinya tergolong aman, tetapi dapat berisiko mengganggu kesehatan ginjal jika dikonsumsi berlebihan.