Mengenal Penyakit Hepatitis

Mengenal Penyakit Hepatitis

Kesehatan 1082

Apa Itu Hepatitis?

Hepatitis adalah penyakit yang memiliki gejala berupa peradangan pada organ hati. Kondisi ini bisa terjadi karena infeksi virus, kebiasaan minum alkohol, paparan zat beracun atau obat-obatan tertentu. 

Jenisnya terbagi dua berdasarkan sifatnya, yaitu akut dan kronis. Jenis akut terjadi bisa secara tiba-tiba dalam kurun waktu yang cenderung singkat.

Sementara yang kronis berkembang perlahan dan merupakan kondisi jangka panjang. Keduanya sama-sama mengganggu berbagai fungsi tubuh, terutama yang berkaitan dengan metabolisme. 

Hal ini terjadi karena hati berperan penting dalam metabolisme tubuh, seperti menghasilkan empedu, mengurai berbagai zat, menetralisir racun, mengaktifkan enzim dan lain sebagainya. 

Jenis, Penyebabnya dan Gejala Hepatitis

1. Hepatitis A

Virus hepatitis A (HAV) adalah penyebab penyakit hepatitis A. Virus dengan genom RNA ini berukuran 27 nanometer dengan partikel bulat (genus hepatovirus dikenal sebagai enterovirus 72). Virus ini beruntai tunggal dan linier dengan ukuran 7.8 kb, tidak memiliki selubung, memiliki satu serotipe dan empat genotipe. Penyakit ini ditularkan melalui makanan yang terkontaminasi oleh virus Hepatitis A.

Gejala infeksi Hepatitis A biasanya berupa :

  • Pusing kepala
  • Mata dan kulit menjadi kuning (jaundice)
  • Mual dan muntah
  • Sakit tenggorokan
  • Diare
  • Tidak nafsu makan

2. Hepatitis B

Virus Hepatitis B (HBV) adalah penyebab penyakit hepatitis B. Virus ini  adalah virus DNA dari keluarga Hepadnaviridae dengan struktur virus berbentuk sirkuler dan terdiri dari 3200 pasang basa (partikel bulat 42 nm) atau partikel Dane dengan lapisan fosfolipid (HbsAg) (2.5).

Penyakit ini ditularkan melalui cairan tubuh penderita Hepatitis B, dapat terjadi secara vertikal, yaitu dari ibu yang menderita Hepatitis B kepada bayi yang dilahirkannya. Penyakit ini juga dapat terjadi secara horizontal melalui transfusi darah, jarum suntik yang tercemar, pisau cukur, tatto, atau transplantasi organ. Paparan virus ini akan menyebabkan hepatitis akut yang dapat sembuh spontan dan memberikan kekebalan terhadap penyakit ini, atau dapat berkembang menjadi hepatitis kronik.

Gejala hepatitis B akut diantaranya:

  • Kehilangan nafsu makan
  • Mual dan muntah
  • Gejala yang menyerupai flu  seperti lelah, nyeri pada tubuh, sakit kepala, dan demam tinggi
  • Nyeri perut
  • Mata dan kulit menjadi kuning (jaundice)

Sebagian besar pasien dengan hepatitis B kronik tidak menunjukkan gejala. Sebagian dapat merasakan kelemahan dan tidak nyaman pada perut bagian kanan atas.

Hepatitis kronik dapat berkembang menjadi fibrosis hati atau sirosis hati yang ditandai dengan adanya jaringan luka yang menyelimuti hati, sehingga fungsi hati tidak dapat berjalan secara optimal dan dapat terjadi gejala gagal hati seperti ikterus (penyakit kuning), bengkak pada kedua tungkai, cairan di perut (asites), dan gangguan kesadaran.

3. Hepatitis C

Hepatitis C disebabkan oleh virus Hepatitis C (HCV), yang merupakan virus RNA dari keluarga Flaviviridae. Virus ini memiliki partikel untuk menyelimuti untaian RNA yang panjangnya 9.600 basa nukleotida. Penyakit ini ditularkan melalui paparan darah dan cairan tubuh yang terkontaminasi virus Hepatitis C. Sama seperti Hepatitis B, penyakit ini dapat ditularkan secara vertikal maupun horizontal.

Berikut merupakan gejala yang dapat ditimbulkan :

  • Tidak nafsu makan
  • Mual dan muntah
  • Letih
  • Mata dan kulit menjadi kuning (jaundice)

Hampir 80% pasien yang terinfeksi Hepatitis C akan menetap menjadi hepatitis C kronik. Perkembangan penyakit hepatitis C kronik berjalan lambat, 10-20% diantaranya akan menjadi sirosis hati dalam waktu 15 - 20 tahun. Setelah menjadi sirosis hati, sekitar 1-5% per tahun akan berkembang menjadi kanker hati.

4. Hepatitis D

Penyakit hepatitis D disebabkan oleh Virus Hepatitis Delta (HDV). Ditemukan pada tahun 1977, virus ini berukuran 35-37 nm dan memiliki antigen internal yang unik, yaitu antigen delta.

Infeksi virus hepatitis D biasanya ditemukan bersama-sama dengan infeksi virus hepatitis B, karena virus ini memerlukan virus hepatitis B untuk dapat berkembang di tubuh manusia. Oleh karenanya, penularannya sama dengan penularan hepatitis B.

Sebagian besar penderita hepatitis D tidak menunjukkan gejala, namun dapat juga menimbulkan gejala seperti berikut:

  • Nyeri otot dan sendi
  • Sakit perut
  • Mual dan muntah
  • Demam
  • Tidak nafsu makan
  • Mata dan kulit menjadi kuning (jaundice)

Selain itu, virus ini mampu mempercepat proses fibrosis hati sehingga mempercepat terjadinya sirosis hati dan meningkatkan risiko kanker hati.

4. Hepatitis E

Virus hepatitis E (VEH) menyebabkan penyakit hepatitis E. Sebuah virus RNA berbentuk sferis dan merupakan anggota dari famili Hepeviridiea dan genus Hepevirus.

Gejala infeksi virus hepatitis E sama seperti  gejala hepatitis A. Virus ini terdapat pada feses pasien yang menderita hepatitis E dan ditularkan melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi virus tersebut. Gejala yang ditimbulkan dapat berupa:

  • Demam ringan
  • Tidak nafsu makan
  • Mual, muntah
  • Nyeri perut
  • Mata dan kulit menjadi kuning (jaundice)

Sebagian kecil pasien yang terinfeksi hepatitis E dapat menjadi hepatitis kronik, terutama pada pasien dengan kondisi imunitas yang menurun. Pada beberapa kasus, meskipun jarang, dapat menimbulkan gejala hepatitis akut yang berat hingga gagal hati yang menyebabkan kematian.

Faktor Risiko Hepatitis

Ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami gejala hepatitis, yaitu:

1. Faktor Lingkungan

Contoh faktor lingkungan yang bisa menjadi penyebab atau pemicu penyakit ini, antara lain:

  • Air yang tidak layak untuk minum atau untuk mencuci peralatan makan.
  • Kurangnya fasilitas sanitasi; Kamar mandi atau tempat cuci tangan.
  • Kontak dengan jarum suntik bekas, alat suntik, atau benda lain yang terkontaminasi darah yang terinfeksi.

2. Gaya Hidup

Ada beberapa perilaku atau aktivitas yang berpotensi terpapar virus, bahan kimia beracun, atau zat penyebab penyakit ini, yaitu: 

  • Berbagi jarum suntik atau benda lain.
  • Melakukan hubungan seksual yang tidak aman; Tidak menggunakan kondom saat berhubungan seks atau bergonta-ganti pasangan.
  • Bekerja di sekitar bahan kimia beracun. Petugas kebersihan, pelukis, penyedia layanan kesehatan, atau pekerja pertanian, berpotensi terkena penyakit ini.
  • Minum air yang belum matang atau makan makanan yang tidak terolah dengan aman dan benar.
  • Mengonsumsi alkohol secara berlebihan dalam jangka waktu yang lama.
  • Minum obat yang terkait dengan kondisi ini. 

3. Riwayat Kesehatan

Riwayat kesehatan seseorang juga bisa memengaruhi terjangkitnya penyakit ini. Berikut sejumlah hal yang dapat meningkatkan risiko kondisi ini:

  • Belum mendapatkan vaksinasi.
  • Memiliki infeksi akut atau kronis dengan satu atau lebih virus.
  • Memiliki gangguan autoimun.
  • Lahir dari ibu yang terinfeksi virus hepatitis B.

Diagnosis Hepatitis

Untuk mendiagnosis hepatitis, dokter akan melakukan tanya jawab tentang gejala dan riwayat kesehatan pasien, dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik. Pada pemeriksaan fisik, dokter akan memeriksa perubahan warna di bagian putih mata (sklera) dan menekan perut bagian kanan atas.

Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan diagnosis, meliputi:

  • Tes fungsi hati, untuk memeriksa kadar protein atau enzim di aliran darah, yang dapat menunjukkan kerusakan pada hati
  • Tes antibodi virus hepatitis, untuk mengetahui jenis antibodi virus hepatitis dalam darah dan menentukan apakah hepatitis bersifat akut atau kronis
  • USG perut, untuk mengetahui jenis kelainan pada organ hati, seperti kerusakan hati, pembesaran hati, atau tumor hati
  • Biopsi hati, untuk menentukan penyebab kerusakan di jaringan hati

Pengobatan Hepatitis

Pengobatan hepatitis tergantung pada jenis dan tingkat keparahan penyakit. Berikut adalah cara pengobatan untuk berbagai jenis hepatitis:

1. Hepatitis A

Hepatitis A umumnya tidak memerlukan pengobatan khusus karena seringkali sembuh dengan sendirinya. Perawatan fokus pada manajemen gejala, yang meliputi:

  • Istirahat yang cukup
  • Minum banyak cairan untuk mencegah dehidrasi
  • Mengonsumsi makanan yang mudah dicerna
  • Menghindari alkohol dan obat-obatan yang dapat memperburuk kondisi hati

2. Hepatitis B

Pengobatan Hepatitis B dapat berupa:

  • Antiviral: Obat-obatan seperti tenofovir, entecavir, atau lamivudine digunakan untuk menekan replikasi virus dan mengurangi risiko perkembangan penyakit.
  • Interferon: Dalam beberapa kasus, interferon alfa dapat digunakan untuk meningkatkan respon kekebalan tubuh terhadap virus.
  • Pemantauan: Untuk kasus hepatitis B kronis dengan aktivitas rendah, pemantauan rutin mungkin diperlukan tanpa pengobatan aktif.

3. Hepatitis C

Pengobatan Hepatitis C melibatkan:

  • Antiviral langsung (DAAs): Obat-obatan seperti sofosbuvir, ledipasvir, atau glecaprevir/pibrentasvir dapat menyembuhkan hepatitis C dengan efektivitas tinggi, biasanya dalam waktu 8-12 minggu.
  • Pemantauan: Setelah pengobatan, penting untuk melakukan tes untuk memastikan virus telah hilang dan hati berfungsi dengan baik.

4. Hepatitis D

Pengobatan Hepatitis D umumnya melibatkan:

  • Antiviral: Obat-obatan yang digunakan untuk Hepatitis B, seperti interferon alfa, dapat membantu mengontrol infeksi Hepatitis D karena virus ini memerlukan Hepatitis B untuk berkembang.
  • Vaksinasi Hepatitis B: Vaksinasi Hepatitis B bisa mencegah infeksi Hepatitis D dengan mengatasi infeksi Hepatitis B yang mendasarinya.

5. Hepatitis E

Pengobatan Hepatitis E biasanya tidak diperlukan karena infeksi sering sembuh dengan sendirinya dalam beberapa minggu hingga bulan. Untuk kasus kronis atau berat, terutama pada pasien dengan sistem kekebalan yang lemah:

  • Antiviral: Obat-obatan seperti ribavirin dapat digunakan untuk membantu mempercepat pemulihan.
  • Perawatan Dukungan: Manajemen gejala dan dukungan untuk sistem kekebalan tubuh sangat penting.

Komplikasi Hepatitis

Apapun jenisnya, apabila kamu biarkan tanpa penanganan, gejala hepatitis bisa memicu berbagai komplikasi, antara lain: 

  • Fibrosis hati, kondisi ketika hati penuh oleh jaringan parut sehingga tidak lagi bisa berfungsi dengan baik.
  • Sirosis hati, merupakan tahap lanjut dari fibrosis.
  • Kanker hati, bisa terjadi sebagai komplikasi dari sirosis.
  • Gagal hati. Meski komplikasi ini jarang terjadi, tapi gagal hati merupakan kondisi serius yang bisa berakibat fatal.
  • Glomerulonefritis, gangguan ginjal yang terjadi akibat peradangan yang seringkali berhubungan dengan respon imun. 
  • Krioglobulinemia, penyakit langka yang terjadi akibat sekelompok protein abnormal yang menyumbat pembuluh darah kecil. 
  • Ensefalopati Hepatik. Kehilangan fungsi hati yang parah, seperti gagal hati, dapat menyebabkan otak meradang, yang bernama ensefalopati.
  • Hipertensi portal, terjadi ketika sistem sirkulasi portal hati tersumbat akibat sirosi dan masalah lain.
  • Porfiria, merupakan komplikasi langka dari infeksi hepatitis C kronis.
  • Koinfeksi virus, yaitu ketika ada dua infeksi virus pada saat yang bersamaan.

Pencegahan Hepatitis

Risiko terjadinya hepatitis dapat diturunkan dengan melakukan beberapa upaya berikut:

  • Mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun secara rutin, terutama setelah beraktivitas di luar ruangan dan sebelum menyentuh makanan
  • Melakukan hubungan seksual yang aman, seperti dengan satu pasangan atau menggunakan kondom
  • Tidak berbagi penggunaan barang-barang pribadi, seperti alat cukur atau sikat gigi
  • Mengonsumsi makanan bergizi seimbang, berolahraga, dan beristirahat yang cukup
  • Tidak mengonsumsi minuman beralkohol dan tidak menggunakan NAPZA
  • Tidak mengonsumsi makanan mentah dan air minum yang tidak terjamin kebersihannya
  • Melakukan vaksinasi hepatitis sesuai jadwal yang diberikan oleh dokter

Apabila mengalami keluhan yang mengarah pada hepatitis, maka jangan tunda lagi untuk melakukan pemeriksaan. Hepatitis tidak bisa menunggu, penyakit ini bisa saja menular dengan mudah dan membahayakan banyak orang.

Baca artikel lainnya di Fitie!