Temu ireng disebut dengan temu ireng karena rimpangnya (bagian akar atau batang yang tumbuh di bawah tanah) memiliki warna yang gelap, hamir hitam. Temu ireng memiliki bau yang cukup menyengat dan rasa pahit. Temu ireng telah banyak digunakan sebagai desinfektan, antijamur, antibakteri, hingga penambah daya tahan tubuh. Berikut beberapa potensinya
1. Antikanker
Ekstrak metanol yang berasal dari temu ireng diketahui memiliki potensi antikanker. Berdasarkan hasil penelitian, ia efektif untuk melawan sel kanker. Tak hanya ekstraknya, penelitian lain menggunakan minyak esensial, terkhusus dengan adanya kandungan tropolone dari temu ireng juga diketahui dapat menghambat pertumbuhan sel kanker.
2. Antioksidan
Minyak esensial yang terbuat dari temu ireng menunjukkan aktivitas antioksidan yang sangat kuat, sehingga mampu melawan radikal bebas penyebab kerusakan sel dalam tubuh. Persentase penghambatan radikal bebas oleh aktivitas antioksidan adalah sebesar 77%, yang hampir sama dengan asam askorbat (vitamin C) yang bernilai 81%
3. Antimikroba
Minyak esensial temu ireng memiliki aktivitas antimikroba dalam skala sedang. Berdasarkan penelitian, ia menunjukkan aktivitas yang cukup untuk melawan bakteri seperti Bacillus cereus, Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa, serta Streptococcus mutans. Aktivitas antimikrobanya juga moderat terhadap jamur Candida albicans.

Temu ireng memiliki aktivitas antimikroba dalam skala sedang
4. Anti Dengue
Ekstrak etanol dari temu ireng menunjukkan efek yang positif terhadap trombosit, eritrosit, dan hematokrit pada hewan coba, di mana ia mampu meningkatkan kadarnya setelah dikonsumsi selama 7 hari. Namun meskipun begitu, masih diperlukan lebih lanjut untuk mengkonfirmasi potensi ini serta untuk memahami mekanisme kerjanya.

Temu ireng diketahui memiliki efek positif terhadap kadar trombosit, eritrosit, dan hematokrit darah
5. Imunostimulan
Minyak esensial dari temu ireng dapat bertindak sebagai agen imunostimulan. Mekanismenya diperkirakan melalui peningkatan viabilitas sel limfosit primer, yaitu kemampuan sel-sel limfosit untuk tetap hidup dan berfungsi. Efek ini ditemukan pada sebuah penelitian yang menggunakan minyak esensial temu ireng sebagai agen imunostimulan untuk melawan penekanan sistem kekebalan tubuh akibat kemoterapi.

Temu ireng bertindak sebagai agen imunostimulan
6. Anthelmintik
Aktivitas anthelmintik merujuk pada kemampuan suatu zat untuk membunuh cacing parasit (helmint) dari tubuh inang, sehingga penting dalam pengobatan penyakit yang disebabkan oleh infeksi cacing. Ekstrak dari temu ireng diketahui dapat mengganggu kontraksi otot cacing, menyebabkan kerusakan pada organ reproduksi dan pencernaannya, serta menyebabkan kelumpuhan sebelum akhirnya mati.
7. Antiinflamasi
Ekstrak temu ireng menunjukkan aktivitas antiinflamasi. Senyawa bioaktif seperti flavonoid, terpenoid, dan fenolik dalam ekstraknya mampu menghambat pelepasan mediator kimia inflamasi, seperti sitokin proinflamasi, prostaglandin, dan leukotrien. Peradangan yang dihambat oleh ekstrak ini meliputi edema kaki dan edema teling pada hewan coba, serta inflamasi in vitro pada sel makrofag.
Temu ireng merupakan salah satu tanaman tradisional yang telah digunakan sejak puluhan tahun lalu, meskipun mungkin tidak semua orang familiar dengan namanya. Berdasarkan hasil penelitian, terutama pada hewan coba, temu ireng memiliki beberapa potensi terkait kesehatan, mulai dari antikanker, antioksidan, antimikroba, anti-dengue, anthelmintik, antiinflamasi, serta imunostimulan.
Aktivitas-aktivitas tersebut cukup menjanjikan, tetapi tetap diperlukan penelitian intensif lebih lanjut untuk mengeksplorasi potensinya. Hal ini bertujuan demi menunjukkan seberapa besar efektivitasnya dalam menangani berbagai aspek terkait kesehatan. Ladies sudah pernah mengonsumsinya belum, nih? Atau justru belum pernah mendengar namanya?